Halo! Di kolom kali ini, gue cuma mau memberi informasi, bahwa terdapat perubahan pada cerita. Gak juga, sih. Hanya dihapus tanggal, bulan, dan tahun kejadian saja. Jadi, cerita yang ada di blog, sudah tidak dicantumkan tanggal, bulan, dan tahun lagi. Begitu juga di Wattpad, tidak akan dicantumkan tanggal, bulan, dan tahun kejadian lagi. Selebihnya, alur dan cerita tetap sama.
So, jangan lupa stay tune on Wattpad: shirleyshey ❤️
Thank you! ❤️
Kamis, 28 Juni 2018
Kamis, 21 Juni 2018
Aku, Kamu, dan Jarak - Berakhir tapi Bukan Terakhir
Britania Ballroom, Jakarta
Aku menatap ke arah kaca dan mendapati diriku menjadi seratus persen wanita. Gaun silver sederhana. Kutatap dengan saksama wajahku di kaca. Natural make up yang selalu kusuka dari sentuhan tangan Alanna. Kutatap sekitarku. Kusanggupkan tubuhku untuk berdiri. Kusanggupkan kedua kakiku untuk melangkah. Melangkah menuju pintu keluar. Pintu keluar yang mengartikan berakhirnya tanggung jawab kedua orangtuaku akan aku. Aku yang menyusahkan mereka dua puluh empat tahun lamanya. Takkan bisa digantikan oleh apapun.
Kubuka pintu yang bertuliskan "Bride Room", lalu kulangkahkan kakiku menuju ruangan dimana terdapat kedua orangtua aku dan laki-laki yang sejak enam jam lalu resmi menjadi suamiku.
Klik. Pintu terbuka. Suasana hening.
"Permisi." Sial! Aku gugup.
Adrian menoleh. Aku masuk ke ruangan dengan mudah karena gaun yang kukenakan sangatlah sederhana. Di samping aku yang gak mau ribet, Adrian juga mendukung untuk mengenakan gaun yang sederhana karena terlihat jauh lebih manis dibanding gaun yang sampai melebar-lebar menyapu lantai.
Adrian melangkah mendekat ke arahku.
Tersenyum lalu memegang erat kedua lenganku. Mendekat. Lalu menciumku di pipi.
Cup! Lalu menggenggam erat tanganku.
"Yuk, kita siap-siap mulai acara." Katanya sambil sambil memamerkan senyum lebarnya dan disambut bahagia kedua orangtua kami. Kedua adik kami juga langsung bergegas, yang laki-laki merapihkan jas, sedangkan adik perempuanku merapihkan rambut kriwel-kriwelnya.
"Are you ready, My Wife?" Adrian selalu tau perasaanku. Dan dia benar, saat ini.. aku seperti tidak siap dan gugup setengah mati. Percayalah, setelah gugup saat akad dan pemberkatan tadi pagi, akan ada gugup selanjutnya menghadapi tatapan banyak orang yang sudah menunggu di depan mata.
Tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk menarik nafas panjang. Lalu kuhembuskan. Fuhhh!
"Ok, let's rock, My Husband!"
**
Akhirnya part 6 jugaaaa! Ini bukan akhir dari cerita. Shera malah ingin menceritakan kisahnya dengan Adrian lebih dalam. Kalian boleh menunggu, jika ingin. Dan boleh pergi, jika ingin.
Cerita Shera dan Ian akan ditulis oleh kembaran Shera, Shirley. Tapi, bukan disini.
Wattpad: www.wattpad.com/shirleyshey
Aku takkan membuatmu menunggu terlalu lama. Stay tune! ❤️
Aku menatap ke arah kaca dan mendapati diriku menjadi seratus persen wanita. Gaun silver sederhana. Kutatap dengan saksama wajahku di kaca. Natural make up yang selalu kusuka dari sentuhan tangan Alanna. Kutatap sekitarku. Kusanggupkan tubuhku untuk berdiri. Kusanggupkan kedua kakiku untuk melangkah. Melangkah menuju pintu keluar. Pintu keluar yang mengartikan berakhirnya tanggung jawab kedua orangtuaku akan aku. Aku yang menyusahkan mereka dua puluh empat tahun lamanya. Takkan bisa digantikan oleh apapun.
Kubuka pintu yang bertuliskan "Bride Room", lalu kulangkahkan kakiku menuju ruangan dimana terdapat kedua orangtua aku dan laki-laki yang sejak enam jam lalu resmi menjadi suamiku.
Klik. Pintu terbuka. Suasana hening.
"Permisi." Sial! Aku gugup.
Adrian menoleh. Aku masuk ke ruangan dengan mudah karena gaun yang kukenakan sangatlah sederhana. Di samping aku yang gak mau ribet, Adrian juga mendukung untuk mengenakan gaun yang sederhana karena terlihat jauh lebih manis dibanding gaun yang sampai melebar-lebar menyapu lantai.
Adrian melangkah mendekat ke arahku.
Tersenyum lalu memegang erat kedua lenganku. Mendekat. Lalu menciumku di pipi.
Cup! Lalu menggenggam erat tanganku.
"Yuk, kita siap-siap mulai acara." Katanya sambil sambil memamerkan senyum lebarnya dan disambut bahagia kedua orangtua kami. Kedua adik kami juga langsung bergegas, yang laki-laki merapihkan jas, sedangkan adik perempuanku merapihkan rambut kriwel-kriwelnya.
"Are you ready, My Wife?" Adrian selalu tau perasaanku. Dan dia benar, saat ini.. aku seperti tidak siap dan gugup setengah mati. Percayalah, setelah gugup saat akad dan pemberkatan tadi pagi, akan ada gugup selanjutnya menghadapi tatapan banyak orang yang sudah menunggu di depan mata.
Tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk menarik nafas panjang. Lalu kuhembuskan. Fuhhh!
"Ok, let's rock, My Husband!"
**
Akhirnya part 6 jugaaaa! Ini bukan akhir dari cerita. Shera malah ingin menceritakan kisahnya dengan Adrian lebih dalam. Kalian boleh menunggu, jika ingin. Dan boleh pergi, jika ingin.
Cerita Shera dan Ian akan ditulis oleh kembaran Shera, Shirley. Tapi, bukan disini.
Wattpad: www.wattpad.com/shirleyshey
Aku takkan membuatmu menunggu terlalu lama. Stay tune! ❤️
Jumat, 08 Juni 2018
Aku, Kamu, dan Jarak - Part 5
West Jakarta Resto - 19.06 Waktu Jakarta bagian Serius Mau Minta Maaf
"Mas, aku mau minta maaf.." Ucapku gugup.
"Oke, jadi gini, Ma, Pa, Bu, Pak, dan adik-adik sekalian," Adrian malah beralih dariku dan bercanda seolah-olah dia ingin membuat pengumuman. Semua langsung tertuju pada Adrian. Aku? Jangan tanya. Aku masih melongo karena baru saja berbicara dengan bongkahan es batu.
"Adrian..., batal pindah ke Jakarta."
Hening. Semua tertegun menatap Adrian. Termasuk dan terutama... aku.
Ingin menangis, ingin teriak, ingin maki-maki diri sendiri, wah.. banyak inginku untuk mengamuk di resto yang indah nan mahal ini. Tapi, takut gak sanggup bayar ganti ruginya. Yaudah, gak jadi ngamuk. Jadinya, lari ke toilet dan me-na-ngis.
Menangis di depan kaca memang bisa membuat kita makin gak karuan ya. Ketika aku menegakkan kepala dan melihat wajahku di kaca, aku semakin-makin ingin menangis. Maskara-ku rusak, mataku hitam lebam seperti Miss Kun. Itu karena maskara dan eye shadow yang bleberan. Adik perempuanku tersenyum di belakangku.
"Gila! Serem sih lo, muncul di belakang gue senyum-senyum horror gitu!" Kataku terkejut.
"Ya, elo lagian! Main kabur aja. Pengumuman Mas Ian belum selesai tau!" Katanya sambil menepuk pundakku dan langsung berpindah posisi tangannya menggandeng serta menarikku keluar.
Wah, gila! Gue belum rapihin muka gue!!!!!
"Kamu.. abis jadi kunti-kuntian?" Tanya Papa sesampainya aku di table. "Apaan sih, Pa? Enggak, tuh Dira tiba-tiba nyusul ke toilet trus narik aku yang belum siap gini." Jawabku sambil mengerucutkan bibir. "Buruan, sih, pengumumannya lama banget!" Aku mulai be-te.
"Oke, karena udah ada yang mulai lapar. Adrian lanjut ya. Adrian batal pindah ke Jakarta minggu ini. Jadi, Adrian baru bisa menetap sekitar dua minggu lagi, karena harus urus dokumen yang belum selesai di Jogja dan masih harus cicil pindahin barang."
Sial! Kenapa aku bisa selemah ini sih? Baru denger satu kalimat aja udah cengeng gini!
Tapi tetap saja. Aku-benci-jarak. Sudah cukup sabar dari masa kuliah sampai dua tahun kerja harus aku korbankan merana karena long distance relationship. Sudah enam tahun LDR, selama ini bisa bertemu enam bulan sekalipun sudah harus bersyukur. Terus urusan pindahan kesini juga dipersulit, gitu?
"Dan pengumuman surprisenya tetap ada kok. Terutama buat tuan putri yang suka pulang malam ini." Aku langsung menoleh ke arah Adrian. Kedua orangtua kami langsung tertunduk menahan tawa.
Ih, lagian pulang malem juga gak sering, sih. Hhh, kenapa harus berlebihan sih.
"Undangan sudah dipersiapkan. Urusan gedung dan katering sudah selesai. Dan tiga bulan lagi adalah pelaksanaannya."
Kalo ada backsound, mungkin akan tiba-tiba terdengar lagu The Way You Look At Me di bagian reff.
Semua anggota keluarga tersenyum lega... seperti seolah sudah tahu akan hal ini dan seperti aku adalah terdakwa yang tidak tahu mengenai apapun soal ini.
Tapi, tenang. Betenya sudah lenyap. Aku langsung menangis dan memeluk Adrian bahagia. Bahagia sekali. Perjuangan tahan-tahan selama enam tahun berakhirlah sudah.
Jarak mengajarkanku segalanya.
Jarak mengajarkanku arti rindu.
Jarak mengajarkanku arti setia.
Jarak mengajarkanku arti waktu.
Jarak mengajarkanku menghargai waktu.
Ingin marah, tapi aku sudah terlewat pasrah.
Pasrah menerima kenyataan dan memaklumi keadaan.
Bukan tembok tinggi yang berdiri di depan kami.
Tapi jarak yang mengular begitu panjang dan sangat menantang.
Menantang untuk lebih setia lagi.
Menantang untuk bisa saling menghargai.
Menantang untuk bisa terus menyayangi.
Dan... menantang untuk terus bisa menunggu hingga ia kembali.
Terima kasih kupersembahkan kepada Tuhan yang mampu mengubah arah hidupku. Dan terima kasih kepada jarak yang mampu membawa kemana arah jalanku.
Love, Shera.
Aku, Kamu, dan Jarak - Part 4
"Yummy Gelato, selamat sore."
"Reservasi atas nama Alanna hari Minggu jam tiga sore."
"Reservasi atas nama Alanna. Minggu. Jam tiga. Seperti biasa untuk dua orang dan di garden meja nomor 9 ya, Bu?"
"Yap, betul."
"Oke, noted ya, Bu."
"Oke, terima kasih, Mbak!"
"Terima kasih kembali, selamat sore."
**
19.37 Waktu Jakarta bagian Riweuh di Gedung Nikahan Orang
"Davi!" Aku menoleh ke arah suara yang memanggil laki-laki yang ada di depanku ini. Aku kenal. Itu teman dekat Davi waktu SMP, Alfred.
"Yo! Fre! Apa kabar?" Mereka tos lalu berpelukan. "Kabar baik, Bro!" Lalu Alfred menoleh padaku. "Yo, masih? Gila! Apa kabar, Sher?" Masih? Apaan tuh?
"Hai, Fre! Baik. Lo gimana?" Sambutku sambil fake smile. "Calon istri orang, Fre! Hahahaha," jawab Davi sambil tertawa lebar. "Oh ya? Wah, menyusul Andi ya sebentar lagi."
Andi dan Kiki, mereka berdua raja dan ratu malam ini. Teman mainnya Davi dari masa SMP. Dan, aku kenal jelas dengan mereka. Dulu, waktu aku dan Davi masih bersama, aku sempat dikenalkan dengan Andi dan Kiki.
"Dav, gue minta kunci mobil. Pegel." Aku melepas sepatuku bergantian, lalu mengambil kunci mobil dari tangan Davi. Sebenarnya, acara masih sangat panjang. Sampai pukul satu dini hari karena akan ada DJ di bagian penutup. Namun, tampaknya aku tak lagi sanggup berdiri lama-lama di dalam.
Sesampainya di mobil, aku membuka kancing tasku, lalu mengambil handphone dan memeriksa apakah ada pemberitahuan.
Jakarta, 22.37 Waktu Jakarta bagian Kaget
Missed Call: Mas Adrian - 31 Missed Call
Short Message: 124 Messages from Mas Adrian
Pesan terakhir dari Mas Adrian yang terlihat di pop-up:
Pulang ke rumah, sekarang. Atau aku jemput kesana?
Luar biasa. Shock therapy di lengan malam. Aku langsung bergegas keluar dari mobil Davi, mengenakan flatshoes yang dengan sengaja kubawa, dan menenteng tas serta heels sialan yang kukenakan tadi.
Sambil berlari-lari kecil, aku ke tempat pagar ayu yang kulihat banyak teman Davi berkumpul dan... ah! Tepat sekali. Ada Mita, teman dekat Davi juga. Kutitipkan kunci mobil Davi padanya, lalu bergegas memesan taksi online setelah berterima kasih ria dengan Mita.
**
"INI PERTAMA DAN TERAKHIR AKU TAU KAMU BEGINI."
Kedua orangtuaku diam mendengar Adrian marah seolah mendukung Adrian untuk memarahiku yang pulang... hampir tengah malam.
"Bukan soal kamu pergi sama siapa, tapi kamu pikir dong. BAHAYA! Ngerti nggak, sih?" Aku diam, lalu berlari ke kamar. Dan menangis sejadi-jadinya. Aku benci suara dengan volume meninggi.
Ibuku mengetuk pintu. Lalu masuk dengan membawa segelas susu dan biskuit kesukaanku. Meletakannya di nakas sebelah tempat tidurku. Dan duduk di sisi tempat tidur.
Aku sudah rapih berpiyama.
"Mama mengerti sekali kenapa Adrian begitu marah sama kamu. Bukan maksud mama dan papa membela Adrian. Mama dan papa juga khawatir kamu belum pulang sampai selarut ini." Mama mulai percakapan sambil mengusap kepalaku.
"Mama bilang ke Mas Adrian kalau aku pergi kondangan sama Davi?" Langsung saja kutanyakan begitu pada Mama. Memang weekend ini, mama dan papa menginap di rumah. Bahkan sudah tiba di rumahku pada Sabtu pagi. Jadi, mama dan papa tau kemana aku pergi dan dengan siapa aku pergi. Aku tau, mama pasti ingin melarang aku pergi dengan Davi. Karena...
"Gak baik begitu, Sayang. Hanya menghitung bulan kamu jadi milik Mas-mu. Mama rasa, gak pantes kamu masih keluyuran sampai selarut ini apalagi sama teman laki-laki."
Bosan mendengar kalimat itu. Aku duduk. Meneguk susu yang dibuatkan mama sekali habis. Lalu balik badan, tidur dan membiarkan mama terdiam dan akhirnya keluar kamarku.
**
Kabar bahwa Adrian ke Jakarta untuk mengurus kepindahannya membuatku bahagia. Bahagia sekali. Bahagia karena aku gak harus menunggu satu tahun untuk kepulangannya dan benar-benar kembali kesini. Ternyata permintaanku di dalam hati "bulan depan" benar-benar dijamah oleh Tuhan.
Namun, setelah kejadian semalam. Aku sama sekali belum bertanya kenapa pindahnya sekarang atau kenapa gak ngabarin kalau ke Jakarta. Semalam juga Adrian pulang ke rumah orangtuanya. Aku hanya sekedar tau dari mama, kalau Adrian kesini untuk mengurus kepindahannya.
Hari ini sepulangnya aku dari Yummy Gelato, tiba-tiba saja aku diberitahu mama kalau ada acara makan malam keluarga aku dan Adrian.
Aku pergi dengan Davi hanya dari sore hingga malam, tapi merasa seperti ketinggalan banyak jadwal keluargaku dan Adrian.
"Jangan merengut di depan calon mertuamu." Mama memoles blush on pada kedua pipiku.
"Kenapa aku bisa gak tau sih, Ma?" Aku masih penasaran. Sejak kapan orangtuaku dan Adrian membuat rencana di luar sepengetahuan aku dan Adrian. Ups. Mungkin Adrian juga tahu.
"Kamu tahu kenapa? Adrian mau buat surprise untuk kamu. Dia mengajukan permohonan berkali-kali ke atasannya untuk tetap memegang proyek di Jakarta. Demi bisa segera pindah dan.. semua dilakukan Adrian buat kamu."
Aku terdiam. Tak satu katapun sanggup kuucap.
**
Untuk memperbaiki setiap kesalahan kita, kita harus siap untuk menghadapi satu fase paling sulit. Menyesal.
Salam dari Shera. ❤️
"Reservasi atas nama Alanna hari Minggu jam tiga sore."
"Reservasi atas nama Alanna. Minggu. Jam tiga. Seperti biasa untuk dua orang dan di garden meja nomor 9 ya, Bu?"
"Yap, betul."
"Oke, noted ya, Bu."
"Oke, terima kasih, Mbak!"
"Terima kasih kembali, selamat sore."
**
19.37 Waktu Jakarta bagian Riweuh di Gedung Nikahan Orang
"Davi!" Aku menoleh ke arah suara yang memanggil laki-laki yang ada di depanku ini. Aku kenal. Itu teman dekat Davi waktu SMP, Alfred.
"Yo! Fre! Apa kabar?" Mereka tos lalu berpelukan. "Kabar baik, Bro!" Lalu Alfred menoleh padaku. "Yo, masih? Gila! Apa kabar, Sher?" Masih? Apaan tuh?
"Hai, Fre! Baik. Lo gimana?" Sambutku sambil fake smile. "Calon istri orang, Fre! Hahahaha," jawab Davi sambil tertawa lebar. "Oh ya? Wah, menyusul Andi ya sebentar lagi."
Andi dan Kiki, mereka berdua raja dan ratu malam ini. Teman mainnya Davi dari masa SMP. Dan, aku kenal jelas dengan mereka. Dulu, waktu aku dan Davi masih bersama, aku sempat dikenalkan dengan Andi dan Kiki.
"Dav, gue minta kunci mobil. Pegel." Aku melepas sepatuku bergantian, lalu mengambil kunci mobil dari tangan Davi. Sebenarnya, acara masih sangat panjang. Sampai pukul satu dini hari karena akan ada DJ di bagian penutup. Namun, tampaknya aku tak lagi sanggup berdiri lama-lama di dalam.
Sesampainya di mobil, aku membuka kancing tasku, lalu mengambil handphone dan memeriksa apakah ada pemberitahuan.
Jakarta, 22.37 Waktu Jakarta bagian Kaget
Missed Call: Mas Adrian - 31 Missed Call
Short Message: 124 Messages from Mas Adrian
Pesan terakhir dari Mas Adrian yang terlihat di pop-up:
Pulang ke rumah, sekarang. Atau aku jemput kesana?
Luar biasa. Shock therapy di lengan malam. Aku langsung bergegas keluar dari mobil Davi, mengenakan flatshoes yang dengan sengaja kubawa, dan menenteng tas serta heels sialan yang kukenakan tadi.
Sambil berlari-lari kecil, aku ke tempat pagar ayu yang kulihat banyak teman Davi berkumpul dan... ah! Tepat sekali. Ada Mita, teman dekat Davi juga. Kutitipkan kunci mobil Davi padanya, lalu bergegas memesan taksi online setelah berterima kasih ria dengan Mita.
**
"INI PERTAMA DAN TERAKHIR AKU TAU KAMU BEGINI."
Kedua orangtuaku diam mendengar Adrian marah seolah mendukung Adrian untuk memarahiku yang pulang... hampir tengah malam.
"Bukan soal kamu pergi sama siapa, tapi kamu pikir dong. BAHAYA! Ngerti nggak, sih?" Aku diam, lalu berlari ke kamar. Dan menangis sejadi-jadinya. Aku benci suara dengan volume meninggi.
Ibuku mengetuk pintu. Lalu masuk dengan membawa segelas susu dan biskuit kesukaanku. Meletakannya di nakas sebelah tempat tidurku. Dan duduk di sisi tempat tidur.
Aku sudah rapih berpiyama.
"Mama mengerti sekali kenapa Adrian begitu marah sama kamu. Bukan maksud mama dan papa membela Adrian. Mama dan papa juga khawatir kamu belum pulang sampai selarut ini." Mama mulai percakapan sambil mengusap kepalaku.
"Mama bilang ke Mas Adrian kalau aku pergi kondangan sama Davi?" Langsung saja kutanyakan begitu pada Mama. Memang weekend ini, mama dan papa menginap di rumah. Bahkan sudah tiba di rumahku pada Sabtu pagi. Jadi, mama dan papa tau kemana aku pergi dan dengan siapa aku pergi. Aku tau, mama pasti ingin melarang aku pergi dengan Davi. Karena...
"Gak baik begitu, Sayang. Hanya menghitung bulan kamu jadi milik Mas-mu. Mama rasa, gak pantes kamu masih keluyuran sampai selarut ini apalagi sama teman laki-laki."
Bosan mendengar kalimat itu. Aku duduk. Meneguk susu yang dibuatkan mama sekali habis. Lalu balik badan, tidur dan membiarkan mama terdiam dan akhirnya keluar kamarku.
**
Kabar bahwa Adrian ke Jakarta untuk mengurus kepindahannya membuatku bahagia. Bahagia sekali. Bahagia karena aku gak harus menunggu satu tahun untuk kepulangannya dan benar-benar kembali kesini. Ternyata permintaanku di dalam hati "bulan depan" benar-benar dijamah oleh Tuhan.
Namun, setelah kejadian semalam. Aku sama sekali belum bertanya kenapa pindahnya sekarang atau kenapa gak ngabarin kalau ke Jakarta. Semalam juga Adrian pulang ke rumah orangtuanya. Aku hanya sekedar tau dari mama, kalau Adrian kesini untuk mengurus kepindahannya.
Hari ini sepulangnya aku dari Yummy Gelato, tiba-tiba saja aku diberitahu mama kalau ada acara makan malam keluarga aku dan Adrian.
Aku pergi dengan Davi hanya dari sore hingga malam, tapi merasa seperti ketinggalan banyak jadwal keluargaku dan Adrian.
"Jangan merengut di depan calon mertuamu." Mama memoles blush on pada kedua pipiku.
"Kenapa aku bisa gak tau sih, Ma?" Aku masih penasaran. Sejak kapan orangtuaku dan Adrian membuat rencana di luar sepengetahuan aku dan Adrian. Ups. Mungkin Adrian juga tahu.
"Kamu tahu kenapa? Adrian mau buat surprise untuk kamu. Dia mengajukan permohonan berkali-kali ke atasannya untuk tetap memegang proyek di Jakarta. Demi bisa segera pindah dan.. semua dilakukan Adrian buat kamu."
Aku terdiam. Tak satu katapun sanggup kuucap.
**
Untuk memperbaiki setiap kesalahan kita, kita harus siap untuk menghadapi satu fase paling sulit. Menyesal.
Salam dari Shera. ❤️
Jumat, 01 Juni 2018
Aku, Kamu, dan Jarak - Part 3
Selesai makan malam, aku dan Adrian mengantar Pak Cipto pulang ke rumahnya karena Adrian ingin memberi libur kepada Pak Cipto dan meyakinkan Pak Cipto, bahwa Pak Cipto tidak akan diberi SP dengan alasan lalai akan tugas. Kemauan Adrian sendiri untuk mengendarai mobil kantor untuk pekerjaannya selama di Jakarta.
"Kasihan, kan, kalo Sabtu & Minggunya Pak Cipto harus kerja. Kapan dia ada waktu buat keluarganya?" Oceh Adrian sambil mengenakan kaos polos kesayangannya.
"Ya, kamu juga. Pulang kesini tepat weekend, tapi kerja." Aku juga bisa mengoceh.
Adrian Galih Devano. Tunanganku, dua puluh lima tahun, kelahiran Yogyakarta. Kediaman keluarga Adrian tak jauh dari kediaman keluargaku. Tetapi Adrian selalu saja pulang ke rumahku. Ralat. Rumah kami. Ya, sebenarnya memang ini bukan sepenuhnya rumahku. Setelah Adrian memberikan fasilitas pendidikan penuh untuk kedua adiknya, ia mengambil alih cicilan rumahku, bahkan mengganti uang cicilan yang sudah kubayarkan tanpa mengubah satu huruf pun nama kepemilikan rumah ini. Tetap menjadi milikku.
Adrian lelaki yang sangat baik. Terlalu baik, malah. Tapi aku gak pernah mutusin dia karena dia terlalu baik buat aku, ya. Hanya saja, kadang aku menguji kesabarannya dengan pulang tengah malam, nonton sama Davi, atau apapun itu yang membuatnya geram.
"Inget, Dek, rumah ini belum lunas. Masih mau bawel karena aku kerja terus? Kamu lupa, uang gedung baru DP?" Tepat! Kata-kata yang akan selalu kuhafal dari mulutnya ketika aku protes akan pekerjaannya yang tidak ingat waktu.
"Mulai. Udahlah, kamar tamu udah aku rapihin ya. Aku mau tidur duluan." Ya, kalian jangan pikir macem-macem ya. Di rumah sederhana kami ada tiga kamar. Sementara sih, kamar utama menjadi kamarku, kamar yang akan ditempati Adrian adalah mutlak kamar tamu, dan kamar satu lagi adalah ruang kerjaku. Hmm, hanya sementara sampai nanti Adrian yang sudah pasti menjajah dan mengubah ruang kerjaku menjadi ruang kerjanya.
**
Aku memerhatikan bangunan yang baru setengah jadi di hadapanku. Tinggi. Benciku adalah ketinggian. Hih. Aku lemas membayangkan kalau lagi-lagi Adrian akan mengajakku naik ke lantai 9. Bangunan ini kusebut "calon hotel" di daerah Sudirman yang sudah sempit ini.
"Kalo jadi, ini bisa sampai 28 lantai, Dek."
"WHAT? Dua puluh delapan lantai? Udah gila kamu, Mas?" Oke, ini berlebihan, tapi sungguh.. aku benci ketinggian.
"Ya, nggak gitu juga responnya." Sahutnya sambil menarik tanganku. Apaan, nih? Jangan-jangan gue mau diajak naik lagi!? Ocehku dalam hati.
"Yuk, makan. Udah jam dua siang, kerjaan aku juga udah selesai." Hah, lega.
**
Grand Inonesia - 15.47 Waktu Jakarta bagian Mata Ijo Liat Toko Baju dan Tas serta Sepatu.
"Kamu lagi butuh apa? Baju? Tas? atau sepatu?" Begitulah Adrian. Dia tidak pernah bertanya apa inginku, tapi apa yang aku butuh.
Kamu itu kalo ditanya pengennya apa, banyak. Kamu selalu haus akan keinginan kamu sampe kamu lupa apa kebutuhan kamu. Makanya yang selalu aku tanya, kamu lagi butuh apa? Kalo nurutin keinginan, kamu pasti mau semua. Tas, sepatu, baju. Aku mau ngajarin kamu caranya mengerti apa itu prioritas.
Begitu ceunah.
"Aku butuhnya sih kamu pindah kesini lagi." Jawabku ketus..., tapi meringis ingin menangis. Haha.
"Kok gitu? Aku kan udah bilang, tahun depan, sayang." Tapi aku maunya bulan depan, sayang. Bukan tahun depan!
"Kelamaan. Keburu dicomot orang.." akunya. Dan belum selesai kalimatku, aku hafal dia akan merespon apa.
Kamu itu, kalo ngomong.. suka sembarangan.
"Kamu itu, kalo ngomong suka sembarangan." See? Dasar kaku!
"Udah, aku mau pulang. Lagi gak mood berdebat. Apalagi sama kamu."
"Sayang, aku udah beli tiket nonton buat midnight masa mau pulang?" katanya sambil menunjukan dua tiket bioskop dan..... cokelat yang daritadi ia sembunyikan di tas slempang kecilnya.
Ya, aku bodoh. Aku luluh karena cokelat.
**
15.54 Waktu Tomang Raya bagian Galau
Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku saat mengangkat telpon dari Davi. Malam ini, Davi memintaku menemaninya ke acara pernikahan teman satu kantornya.
Calling Alanna...
"Davi? Kok makin lengket aja sama Davi, Sher?" Tanya sahabat perempuan tercintaku yang kedengarannya sedang bergelut dengan keyboard komputernya.
"Iya, Al, gue mau kondangan ke nikahan temen kantornya. Tolong ya, Sayangggg.." Aku merayunya untuk kesekian kalinya. Saat ada acara seperti ini, aku akan meminta Alanna memberi sentuhan-sentuhan make up tangan cantiknya.
"Hmm, gimana ya? Gue perlu hal-hal seperti penutup mulut, nih.."
"Yummy Gelato hari Minggu jam tiga sore. Thank youuuu, Babyyyyy!!" kututup telponku, lalu menekan nomor untuk menelepon sasaran selanjutnya..
"Yummy Gelato, selamat sore."
"Reservasi atas nama Alanna hari Minggu jam tiga sore."
**
"Kasihan, kan, kalo Sabtu & Minggunya Pak Cipto harus kerja. Kapan dia ada waktu buat keluarganya?" Oceh Adrian sambil mengenakan kaos polos kesayangannya.
"Ya, kamu juga. Pulang kesini tepat weekend, tapi kerja." Aku juga bisa mengoceh.
Adrian Galih Devano. Tunanganku, dua puluh lima tahun, kelahiran Yogyakarta. Kediaman keluarga Adrian tak jauh dari kediaman keluargaku. Tetapi Adrian selalu saja pulang ke rumahku. Ralat. Rumah kami. Ya, sebenarnya memang ini bukan sepenuhnya rumahku. Setelah Adrian memberikan fasilitas pendidikan penuh untuk kedua adiknya, ia mengambil alih cicilan rumahku, bahkan mengganti uang cicilan yang sudah kubayarkan tanpa mengubah satu huruf pun nama kepemilikan rumah ini. Tetap menjadi milikku.
Adrian lelaki yang sangat baik. Terlalu baik, malah. Tapi aku gak pernah mutusin dia karena dia terlalu baik buat aku, ya. Hanya saja, kadang aku menguji kesabarannya dengan pulang tengah malam, nonton sama Davi, atau apapun itu yang membuatnya geram.
"Inget, Dek, rumah ini belum lunas. Masih mau bawel karena aku kerja terus? Kamu lupa, uang gedung baru DP?" Tepat! Kata-kata yang akan selalu kuhafal dari mulutnya ketika aku protes akan pekerjaannya yang tidak ingat waktu.
"Mulai. Udahlah, kamar tamu udah aku rapihin ya. Aku mau tidur duluan." Ya, kalian jangan pikir macem-macem ya. Di rumah sederhana kami ada tiga kamar. Sementara sih, kamar utama menjadi kamarku, kamar yang akan ditempati Adrian adalah mutlak kamar tamu, dan kamar satu lagi adalah ruang kerjaku. Hmm, hanya sementara sampai nanti Adrian yang sudah pasti menjajah dan mengubah ruang kerjaku menjadi ruang kerjanya.
**
Aku memerhatikan bangunan yang baru setengah jadi di hadapanku. Tinggi. Benciku adalah ketinggian. Hih. Aku lemas membayangkan kalau lagi-lagi Adrian akan mengajakku naik ke lantai 9. Bangunan ini kusebut "calon hotel" di daerah Sudirman yang sudah sempit ini.
"Kalo jadi, ini bisa sampai 28 lantai, Dek."
"WHAT? Dua puluh delapan lantai? Udah gila kamu, Mas?" Oke, ini berlebihan, tapi sungguh.. aku benci ketinggian.
"Ya, nggak gitu juga responnya." Sahutnya sambil menarik tanganku. Apaan, nih? Jangan-jangan gue mau diajak naik lagi!? Ocehku dalam hati.
"Yuk, makan. Udah jam dua siang, kerjaan aku juga udah selesai." Hah, lega.
**
Grand Inonesia - 15.47 Waktu Jakarta bagian Mata Ijo Liat Toko Baju dan Tas serta Sepatu.
"Kamu lagi butuh apa? Baju? Tas? atau sepatu?" Begitulah Adrian. Dia tidak pernah bertanya apa inginku, tapi apa yang aku butuh.
Kamu itu kalo ditanya pengennya apa, banyak. Kamu selalu haus akan keinginan kamu sampe kamu lupa apa kebutuhan kamu. Makanya yang selalu aku tanya, kamu lagi butuh apa? Kalo nurutin keinginan, kamu pasti mau semua. Tas, sepatu, baju. Aku mau ngajarin kamu caranya mengerti apa itu prioritas.
Begitu ceunah.
"Aku butuhnya sih kamu pindah kesini lagi." Jawabku ketus..., tapi meringis ingin menangis. Haha.
"Kok gitu? Aku kan udah bilang, tahun depan, sayang." Tapi aku maunya bulan depan, sayang. Bukan tahun depan!
"Kelamaan. Keburu dicomot orang.." akunya. Dan belum selesai kalimatku, aku hafal dia akan merespon apa.
Kamu itu, kalo ngomong.. suka sembarangan.
"Kamu itu, kalo ngomong suka sembarangan." See? Dasar kaku!
"Udah, aku mau pulang. Lagi gak mood berdebat. Apalagi sama kamu."
"Sayang, aku udah beli tiket nonton buat midnight masa mau pulang?" katanya sambil menunjukan dua tiket bioskop dan..... cokelat yang daritadi ia sembunyikan di tas slempang kecilnya.
Ya, aku bodoh. Aku luluh karena cokelat.
**
15.54 Waktu Tomang Raya bagian Galau
Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku saat mengangkat telpon dari Davi. Malam ini, Davi memintaku menemaninya ke acara pernikahan teman satu kantornya.
Calling Alanna...
"Davi? Kok makin lengket aja sama Davi, Sher?" Tanya sahabat perempuan tercintaku yang kedengarannya sedang bergelut dengan keyboard komputernya.
"Iya, Al, gue mau kondangan ke nikahan temen kantornya. Tolong ya, Sayangggg.." Aku merayunya untuk kesekian kalinya. Saat ada acara seperti ini, aku akan meminta Alanna memberi sentuhan-sentuhan make up tangan cantiknya.
"Hmm, gimana ya? Gue perlu hal-hal seperti penutup mulut, nih.."
"Yummy Gelato hari Minggu jam tiga sore. Thank youuuu, Babyyyyy!!" kututup telponku, lalu menekan nomor untuk menelepon sasaran selanjutnya..
"Yummy Gelato, selamat sore."
"Reservasi atas nama Alanna hari Minggu jam tiga sore."
**
Langganan:
Postingan (Atom)